Tekan Beban TPA Kopi Luhur, Warga Kalilunyu Cirebon Inisiasi Program Biopori Jumbo dan Greenhouse

0

 

Warga Argasunya bersama Dialektika Muda Indonesia dan Penyuluh bermusyawarah


Cirebon – Masyarakat RT 04 RW 04 Kalilunyu, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, bersama Dialektika Muda Indonesia membentuk Kelompok Tani (Poktan) yang diberi nama Kelompok Tani Kalilunyu Asri (KTKA) pada Minggu (18/10/2026). Melalui serangkaian musyawarah dan kerja bakti, warga bersama para tokoh setempat berkomitmen untuk memajukan wilayah melalui program pertanian perkotaan (urban farming) serta pengelolaan sampah mandiri.


Ketua Kelompok Tani Kalilunyu Asri, Tajudin, memaparkan bahwa pembentukan kelompok tani ini merupakan langkah awal penguatan kelembagaan warga. Menurutnya, pembentukan kelompok tani ini dilakukan sebagai sebagai wadah warga untuk melakukan berbagai macam kegiatan pertanian dan lingkungan. 


Tajudin memaparkan bahwa Kelompok Tani Kalilunyu Asri ke depan akan menjalankan program jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka pendek, pihaknya akan segera membuat biopori berukuran besar di tingkat RT sebagai solusi cepat untuk mengurangi dan menyelesaikan permasalahan sampah organik secara mandiri, sekaligus menjadwalkan kerja bakti rutin bagi warga.


“Hari Minggu ini setelah pembentukan yang didampingi penyuluh, langsung dilanjut dengan kerja bakti pembersihan lahan untuk tempat biopori jumbo. Rencananya akan ada tiga lubang dan insyaallah akan direalisasikan secepat mungkin. Kegiatan tani rutin ini dicover setiap hari Minggu untuk meluangkan waktu bersama warga,” tutur Tajudin.


Kedatangan biopori jumbo di Kalilunyu


Sedangkan untuk jangka panjangnya, pihaknya akan membangun fasilitas pertanian perkotaan berupa greenhouse serta mengelola sampah menjadi kompos. Integrasi antara pengelolaan sampah organik rumah tangga dengan fasilitas greenhouse diharapkan mampu menghasilkan pupuk kompos sekaligus mendukung kegiatan budidaya tanaman yang berkelanjutan.


“Program jangka panjangnya adalah adanya greenhouse yang dibangun di wilayah RT 04 Kalilunyu agar bisa menjadi Kampung Sayur Kalilunyu. Jangka panjangnya juga berupa pengelolaan sampah mandiri dari sampah rumah tangga menjadi kompos. Itu untuk mengurangi dan menyelesaikan permasalahan sampah di tingkat RT,” tutur Tajudin.


Tajudin menambahkan bahwa kehadiran kelompok tani ini diharapkan mampu menjadi wadah bagi warga untuk mengoptimalkan potensi pertanian di lingkungan perumahan. Dengan sinergi antara warga, pengurus RT, dan para penyuluh, program ini diharapkan dapat segera terealisasi dengan baik serta menjadikan RT 04 Kalilunyu sebagai kawasan yang lebih bersih, mandiri, dan hijau.


Sementara itu, Mohamad Romadoni yang mewakili Dialektika Muda Indonesia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari kepedulian terhadap isu lingkungan hidup, terlebih wilayah Kalilunyu berkedudukan sebagai daerah penyangga Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kopi Luhur.


Menurut Doni, program pendampingan biopori jumbo yang dilaksanakan oleh Kelompok Tani Kalilunyu Asri bertujuan agar masyarakat lebih sadar lingkungan. Lewat program tersebut, diharapkan volume sampah yang masuk ke TPA Kopi Luhur—yang kondisinya sudah melebihi kapasitas (overload)—dapat berkurang.


“Harapannya, melalui kerja sama dan gotong royong ini, permasalahan lingkungan dapat dikurangi dan pengolahan sampah selesai di lingkungan Rukun Tetangga (RT) tanpa harus sampai ke TPA Kopi Luhur. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat menciptakan sirkulasi ekonomi kerakyatan berbasis kelestarian lingkungan hidup serta mengoptimalkan potensi pertanian di lingkungan perumahan,” tutur Doni.


Adapun penyuluh dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Cirebon, Elisabeth, yang turut mendampingi Kelompok Tani Kalilunyu Asri berharap agar kelompok tani ini bisa menjadi wadah belajar dan bekerja bersama yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.


“Harapan saya sebagai penyuluh pertanian yang mendampingi, semoga kelompok tani ini bisa menjadi wahana kerja sama, wahana belajar bersama, dan wahana usaha bersama antaranggota kelompok, serta memberikan manfaat luas bagi masyarakat sekitar,” pungkas Elisabeth.



Warga saat melakukan kerja bakti untuk pembuatan biopori



Tiga lubang biopori untuk pengolahan sampah



Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top