Republik Kebun Binatang: Ketika Logo Lebih Nyaring dari Gagasan

0

 

Istimewa



Republik kita tiba-tiba riuh oleh auman. Sabtu kemarin di Pontianak, Hanura resmi bersalin rupa. Singa bersurai emas kini jadi wajah baru mereka. Katanya, itu simbol keberanian dan kepemimpinan. Tapi ada ironi yang telanjang di sini: di tanah Kalimantan yang hutannya luluh lantak dibabat 1,2 juta hektare, sebuah partai datang membawa gambar singa—hewan yang bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di rimba Borneo.


Kita sedang menyaksikan tren "Kebun Binatang Politik". Sebelumnya, PSI sudah lebih dulu menuntun gajah ke gelanggang. Ditambah banteng moncong putih dan Garuda yang sudah lama bertengger, baliho di pinggir jalan kini lebih mirip brosur suaka margasatwa daripada tawaran masa depan.


Ini adalah FOMO Politik. Di era TikTok, partai-partai ketakutan dianggap kuno. Mereka berlomba memoles wajah: warna dibuat lebih eye-catching, maskot dibuat lebih gemas, dan logo dirancang oleh konsultan branding, bukan lahir dari keringat perjuangan.


Masalahnya, visual sering kali mendahului substansi. Seperti kata pengamat Kunto Adi Wibowo, mereka sibuk membangun brand awareness tapi lupa membangun nilai. Singa dan gajah ini lahir dari deck PowerPoint, bukan dari luka rakyat. Akibatnya, kita diajak mengagumi bulu, tapi buta pada luka di bawahnya.


Pertanyaannya sederhana: Singa Hanura itu akan mengaum untuk siapa? Untuk warga Dayak yang sungainya keruh oleh merkuri, atau hanya untuk gagah-gagahan di baliho? Gajah PSI akan melangkah ke mana? Ke arah rakyat, atau malah menginjak hak buruh demi investasi?


Simbol tanpa kerja nyata hanyalah gimmick. Rakyat tidak makan logo. Jangan sampai kita terlalu sibuk membedakan mana singa dan mana gajah, sampai lupa bertanya mengapa "kandangnya" tetap sempit dan penguasanya tetap orang yang itu-itu saja.

Hanura menambah daftar parpol yang menggunakan simbol binatang tetapi ini bukanlah hal yang aneh karena sebelumnya sudah ada beberapa parpol yang menggunakan simbol binatang pada logo partainya ini dapat saya simpulkan bahwa direpublik ini sedang mencoba memperluas kebun binatang walau ini sebuah analogi yang agak liar tapi nyatanya partai politik seakan akan berlomba dalam menciptakan maskot yang baru dengan logo dari binatang .


Tentunya kebun binatang meluas di Republik ini bukan hanya sekedar lahir dari gaya hidup hukum rimba, tetapi ini menandakan bahwa Republik ini masih belum bisa lepas dari sebuah bayang bayang predator hewan buas yang liar , untungnya kita tidak kembali hidup pada masa berburu dan meramu .


Harapan yang timbul dan keresahan masyarakat akan pentingnya subtansi dari eksistensi yang kita inginkan pada pemilihan umum nanti di 2029 bukan pertarungan rimba antar binatang tapi sebuah pertarungan gagasan yang melahirkan Republik Indonesia yang berada pada titik kemajuan bukan lagi menjadi negara yang terus berkembang tanpa melangkah maju.


Hingga nanti dunia melihat Republik ini dengan nilai yang tinggi bahkan menjadikan kita negara yang bermartabat karena setiap apapun yang dialami oleh Indonesia mata dunia internasional selalu guncang dan jadi perhatian khusus mata dunia.

Rebranding itu boleh, tapi Indonesia tidak butuh lebih banyak maskot. Kita butuh keberanian untuk ganti perilaku, bukan sekadar ganti baju. Karena pada akhirnya, di bilik suara nanti, yang kita pilih bukan hewan favorit, melainkan masa depan yang sering kali justru senyap dalam janji-janji yang mengaum tinggi.


Penulis : Mohammad Romadoni

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top